Rabu, 13 April 2016

Puasa Solusi Dekadensi Kemerosotan Moral

Dekadensi moral atau kemerosotan moral dapat dialami oleh siapapun. Ia tidak memandang status usia, status sosial ataupun status pendidikan. Kemerosotan moral ini secara umum dapat dirasakan merupakan suatu tindakan yang diluar standar baku atau nilai-nilai yang sudah berlaku di masyarakat.

Penyebabnyapun beragam baik karena faktor kurangnya pendidikan moral atau budi pekerti dalam keluarga, lingkungan tempat tinggal, lingkungan kerja, dsb.

Salah satu solusi pada kemerosotan moral adalah dengan membiasakan diri berpuasa. Tentunya puasa yang dianjurkan sesuai agama yang dianut.

Puasa adalah media pengendalian diri yang terbaik. Dengan berpuasa tubuh dilemahkan karena berkurangnya energi yang diperoleh dari makanan dan minuman yang tidak dikosumsi selayaknya tidak berpuasa.

Pada kondisi puasa ini, pikiran akan lebih fokus dan peka pada hal-hal yang tertentu yang tidak dapat dicerna pada orang yang tidak berpuasa.

Namun banyak tidak disadari pada mereka yang berpuasa, dari data MPD, ketika berpuasa mengapa justru timbul perasaan yang tidak dapat mengontrol diri. Merasa emosi semakin tinggi. Bagi yang masih lajang merasa justru hasrat birahi semakin tinggi. Bahkan sebagian lagi berpendapat karena adanya keringanan ketika berpuasa, membatalkan diri karena ada suatu acara tertentu lalu membatalkan puasanya.

Sadarilah, banyak keajaiban puasa dalam versi yang beraneka rupa. Tetaplah istiqomah dan rasakan sendiri bagaimana puasa menuntun diri kita. Akan banyak keajaiban sekiranya puasa dilakukan secara istiqomah. Ibarat sebuah tempat maka tempat tersebut akan bersih dengan puasa dan satu hal yang biasanya terjadi adalah tempat kosong tersebut akan terisi dengan sebuah hidangan yang baik dan menyehatkan. Hidangan tersebut adalah sebuah hidangan dari langit yang penuh dengan berkah.

"Kitab (Al Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah, agar mereka menghayati ayat-ayat-Nya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran"
(Shaad 29)

"Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat,"
(Al-An'am Ayat 155)

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Alloh. Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir”.
(QS. Al Hasyr: 21).

Al-Imam Muslim di dalam Shahih beliau (no. 746) dari jalan Hisyam bin ‘Amir, bahwa dia berkata:

“Wahai Ummul Mukminin! Beritahukan kepadaku tentang akhlak Rasulullah صلى الله عليه وسلم?”
Dia (‘Aisyah radhiallahu ‘anhu) berkata: “Bukankah kamu membaca Al-Qur`an?”
Aku menjawab: “Iya.”
Kemudian dia (‘Aisyah) berkata: “Akhlak Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah Al-Qur`an.”

"Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
(al-Ahzab [33]: 21)

Dan sebuah hadits yang cukup mashur, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sungguh, aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia."
(HR. Baihaqi dan Al-Hakim).

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar